BerandaPolitikSosok Achmad Hidayat, Pengurus DPC PDIP Surabaya yang dipecat Megawati usai kunjungi...

Sosok Achmad Hidayat, Pengurus DPC PDIP Surabaya yang dipecat Megawati usai kunjungi Jokowi di Solo

Ringkasan Berita:

  • Achmad Hidayat, kader DPC PDIP Surabaya dipecat oleh DPP PDI Perjuangan dari keanggotaan partai per 4 September 2026.
  • Pemecatan Achmad Hidayat atau biasa disapa Totok dilakukan setelah pengurus DPC PDIP Surabaya ini menyambangi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah.
  • Usai bertemu Jokowi, Totok juga menyuarakan rehabilitasi status keanggotaan Jokowi.
  •  

 

 

– Ini lah sosok Achmad Hidayat, kader DPC PDIP Surabaya yang dipecat oleh DPP PDI Perjuangan dari keanggotaan partai per 4 September 2026.

Pemecatan Achmad Hidayat atau biasa disapa Totok dilakukan setelah pengurus DPC PDIP Surabaya ini menyambangi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah.

Usai bertemu Jokowi, Totok juga menyuarakan rehabilitasi status keanggotaan Jokowi.

Kabar pemecatan Totok tertuang dalam Surat Keputusan (SK) DPP PDIP Nomor 105/KPTS/DPP/2026 tentang Pemecatan Achmad Hidayat yang ditetapkan di Jakarta pada 4 September 2026.

“Terbukti melakukan tindakan yang melanggar Kode Etik dan Disiplin Anggota Partai,” demikian bunyi SK DPP PDI Perjuangan seperti dikutip, Senin (14/9/2026).

“Antara lain penyalahgunaan wewenang, meminta dan menerima sejumlah uang dengan alasan yang tidak dapat dibuktikan, melakukan tindakan intimidatif terhadap Pengurus Partai, membawa dokumen Partai tanpa persetujuan Pengurus, serta pernah dijatuhi sanksi pemberhentian dari jabatan karena melakukan tindakan yang melanggar AD/ART Partai,” imbuh SK itu.

SK tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto.

Dalam SK tersebut, DPP PDIP menilai tindakan Achmad Hidayat bertamu ke rumah Jokowi dan meminta partai merehabilitasi status keanggotaan Jokowi sebagai bentuk pembangkangan di luar kewenangan serta pelanggaran disiplin berat.

“Sdr. Achmad Hidayat melakukan kunjungan ke rumah Joko Widodo dan beberapa hari kemudian membuat pernyataan agar Partai mempertimbangkan rehabilitasi kepada Joko Widodo sebagai kader PDI Perjuangan yang telah dipecat,” terangnya.

DPP PDI Perjuangan menilai kunjungan tersebut dan pernyataan Achmad tidak sesuai dengan kewenangannya sebagai kader partai.

“Merupakan bentuk pembangkangan terhadap Keputusan Partai, karena pemecatan terhadap Joko Widodo telah dilakukan sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang berlaku di PDI Perjuangan,” ujarnya.

DPP kemudian menyatakan tindakan dan sikap Achmad telah mencederai nama baik serta kehormatan partai.

DPP juga menyebut tindakan tersebut berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap PDI Perjuangan.

“Tindakan dan sikap Sdr. Achmad Hidayat sebagaimana tersebut di atas telah mencederai nama baik, martabat, wibawa dan kehormatan Partai, merusak kepercayaan rakyat kepada Partai, serta merupakan pelanggaran Kode Etik dan Disiplin Anggota Partai yang dikategorikan sebagai pelanggaran berat,” imbuhnya.

Lewat SK ini, DPP PDIP mencabut seluruh hak dan kewenangan Achmad Hidayat serta melarang keras yang bersangkutan menggunakan nama, lambang, atribut, maupun fasilitas yang mengatasnamakan PDI Perjuangan.

Reaksi Achmad Hidayat

Dikutip dari kompas.com, Achmad Hidayat juga membenarkan pemecatannya sebagai kader PDIP usai berkunjung ke rumah Jokowi pada Juli 2026 lalu.

“Betul. Saya ke rumah Jokowi itu kurang lebih bulan Juli ya. Hanya jadi silaturahmi, lalu saya posting di Instagram itu. Nah, tidak lama setelah itu, bulan Agustus ada usulan pemecatan dari DPC Kota Surabaya ke DPP, sehingga saya dipanggil oleh DPP,” kata Hidayat.

Hidayat mengatakan, agendanya berkunjung ke rumah Jokowi pada bulan Juli lalu dilakukan atas inisiatif pribadi setelah ziarah ke makam Mbah Hasan Besari di Ponorogo.

Saat itu, ia menegaskan tidak menggunakan atribut partai.

“Saya pakai pakaian putih netral, atas inisiatif saya sendiri,” ujarnya.

Saat berkunjung, Hidayat datang bersama sejumlah rekan, termasuk kader senior PDIP dan pihak swasta.

Ia mengaku hanya bersilaturahmi, berfoto, dan sempat menanyakan soal keharmonisan hubungan kebangsaan.

“Sekalipun ngobrolnya berdua dengan saya, penyampaiannya (Jokowi) ‘Saya tidak ada masalah dengan Ibu Mega, dan suatu saat nanti mesti akan ketemu.’ Nah, hanya ngobrol itu saja yang saya ungkapkan ke DPP,” ceritanya.

Menanggapi sanksi pemecatan itu, Hidayat mengaku legawa dan menyampaikan rasa terima kasih kepada PDIP, serta menyebutkan jasanya selama menjadi kader.

“Ya saya menyampaikan terima kasih sudah diberikan kesempatan. Saya bersama almarhum Pak Whid (Adi Sutarwijono) dulu bisa memenangkan Pilkada Eri-Armuji dua kali, memenangkan Pilgub Bu Risma di Surabaya. Sekalipun sumbangsih saya kecil sekali secara politik di PDI Perjuangan, saya berterima kasih,” ucapnya.

Ia menegaskan tetap berpegang teguh pada amanat partai bahwa PDIP merupakan bagian dari NKRI yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kalau memang saat ini DPP partai melihat langkah saya itu abot (berat) ke urusan partainya, bukan urusan kebangsaannya, ya monggo. Nanti biar waktu yang menguji. Saya legawa dan berterima kasih sekali,” pungkasnya.

Siapakah Achmad Hidayat? 

Di pengurusan DPC PDIP Surabaya, Achmad Hidayat sebelumnya menjabat sebagai Wakil Sekretaris.

Alumnus Universitas Negeri Surabaya ini termasuk kader muda PDIP. 

Dia pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Surabaya di pemilu 2024, namun  gagal meraih suara terbanyak. 

Dia pernah menjadi salah satu tenaga ahli untuk fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kota Surabaya pada 2019-2024.

Ia juga pernah menjadi tenaga ahli DPR RI pada 2018-2019.

Ketertarikan Totok dengan PDIP mulai muncul saat menjadi mahasiswa Unesa Surabaya. 

Dia aktif terlibat dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi underbow PDIP di kampus.

Totok pernah menjadi pemberitaan luas pada Juli 2025 lalu.

Saat itu Achmad Hidayat, hampir melakukan aksi bakar diri di Kantor DPC partai berlogo banteng tersebut, Jumat (18/7/2025).

Achmad tampak mengenakan kemeja merah seragam PDIP dengan peci hitam ketika mendatangi Kantor DPC PDI yang berada di Jalan Setail, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.

Selain itu, pria tersebut terlihat membawa sebuah keris di tangan kirinya.

Selanjutnya, Achmad menyiramkan spirtus ke badannya dan berniat untuk membakar diri di depan kantor.

Akan tetapi, sejumlah orang langsung menghentikannya sebelum aksi bakar diri tersebut dilanjutkan.

Bahkan, Achmad dibawa untuk menjauh beberapa meter dari DPC PDI Surabaya.

“Ojok wedi mbek (jangan takut sama) Armuji, enggak ngara wani de’e (tidak mungkin berani dia),” kata Achmad sembari berontak ketika diamankan oleh sejumlah orang, Jumat (18/7/2025).

Diduga, aksi nekat ini dilakukan Achmad terkait konflik internal antara dia dan beberapa kader PDIP.

Achmad terdengar beberapa kali meneriakkan nama Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, dalam aksinya tersebut.

Menurutnya, PDIP sekarang sudah ditunggangi oleh kepentingan pribadi.

“De’e wedi dunyoe ilang (Dia takut kekayaannya hilang). Kene nggae nyowo, enggak ngara wani de’e (Saya pakai nyawa, enggak bakal berani dia),” ucapnya.

Kemudian, Achmad mengingatkan bahwa Satgas PDIP yang berjaga berfungsi untuk menjaga partai, bukan kepentingan pribadi.

Lalu, dia menyebut nama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Satgas, sing mbok jogo partai loh ya (yang kamu jaga partai ya) bukan kepentingan orang. Hidup Megawati, hidup PDI Perjuangan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menolak berkomentar perihal namanya yang disebut beberapa kali oleh Achmad Hidayat ketika melakukan aksi tersebut.

“Lah lapo, onok ae (Ngapain, ada-ada aja), nggak (mau komentar),” kata Armuji. (kompas.com)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments