Harga logam mulia atau emas Antam diprediksi akan kembali menguat dalam sepekan ke depan. Berdasarkan data terbaru, harga emas di pasar domestik berada pada level Rp 2.740.000 per gram. Sementara itu, harga emas dunia mencapai US$ 4.607 per troy ons.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa harga emas dunia dalam beberapa hari mendatang akan bergerak di kisaran support US$ 4.437 per troy ons dan resistance US$ 4.766 per troy ons. Sedangkan untuk harga logam mulia Antam, diperkirakan akan berada dalam rentang antara Rp 2.600.000 per gram hingga Rp 2.864.000 per gram.
Ibrahim menyampaikan prediksi bahwa dalam seminggu ke depan, harga emas Antam kemungkinan besar akan mencapai Rp 2.864.000 per gram. Pergerakan harga emas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti sentimen geopolitik, kebijakan bank sentral, serta permintaan emas pada kuartal III – 2026.
Beberapa isu geopolitik yang sedang muncul menjadi faktor pendorong peningkatan harga emas. Misalnya, Amerika Serikat (AS) disebut akan memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran. Meskipun rencana ini belum diumumkan secara resmi, Iran telah mengecam langkah AS tersebut. Selain itu, Iran juga mengancam akan menutup jalur Selat Hormuz jika sanksi tersebut benar-benar diberlakukan. Ancaman ini membuat harga minyak mentah kembali meningkat.
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah juga memanas setelah Israel kembali melakukan serangan terhadap Suriah. Hal ini memicu ketegangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar global. Di samping itu, konflik antara Rusia dan Ukraina tetap menjadi perhatian utama. Diperkirakan, konflik ini telah menewaskan sekitar 600.000 hingga 700.000 korban, baik dari militer maupun warga sipil.
Dari sisi kebijakan politik AS, Ibrahim menyoroti utang negara tersebut yang sangat besar. Kebijakan pemerintah AS untuk melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi yang awalnya direncanakan sebesar US$ 2 miliar, kini ditingkatkan menjadi US$ 4 miliar. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas pasar obligasi. Namun, secara jangka pendek, kebijakan ini bisa menyebabkan investor melakukan penjualan terhadap obligasi AS.
Menurutnya, menteri keuangan AS menyatakan bahwa buyback obligasi jangka panjang kemungkinan besar akan dilakukan dengan dana lebih besar dari US$ 4 miliar per operasi. Hal ini berdampak pada penurunan yield obligasi tenor 10 sampai 30 tahun. Sebagai akibatnya, banyak investor beralih menempatkan dananya ke emas sebagai aset aman (safe haven).
Selain itu, kebijakan bank sentral AS juga turut memengaruhi harga emas. Meski Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga, beberapa pejabat bank sentral lainnya masih melihat potensi kenaikan suku bunga karena inflasi yang masih berada di atas target. Kebijakan bank sentral global diproyeksikan akan terus mengalami lonjakan akibat tensi geopolitik yang meningkat.
Di sisi lain, permintaan emas oleh bank sentral juga diperkirakan akan meningkat pada kuartal III – 2026. Ibrahim berkaca pada semester I, di mana volume permintaan emas naik sebesar 2%. Ia yakin tren ini akan berlanjut karena indikasi harga emas dunia yang terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, bank sentral kemungkinan besar akan kembali melakukan pembelian logam mulia dalam waktu dekat.


