Iran Minta Bantuan ICRC untuk Pulangkan Pilot yang Ditahan di Qatar
Iran kembali memperkuat tuntutannya terhadap pihak Qatar dan Kuwait dalam upaya memulangkan para pilot yang disebut ditangkap setelah operasi 2 Maret. Dalam pernyataannya, Teheran menuntut agar para pilot tersebut segera dipindahkan dari tempat penahanan di atas air ke rumah sakit yang layak serta diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka.
Brigadir Jenderal Mohammad Baqerzadeh, Komandan Komite Pencarian Orang Hilang dalam Aksi (Missing in Action Search Committee) dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, menyampaikan bahwa upaya untuk mengetahui keberadaan tahanan Iran di Qatar dan Kuwait terus dilakukan. Ia juga meminta ICRC untuk segera mengirimkan ambulans udara ke Qatar guna memulangkan para pilot yang ditangkap.
Menurut Baqerzadeh, para pilot tersebut mengalami luka parah dan dalam kondisi sakit. Ia menyambut baik keputusan pemerintah Qatar untuk menerima tim ahli dari Iran dan menyerukan agar kerja sama yang diperlukan diberikan. Ia juga mendesak pemerintah Qatar untuk segera memindahkan para tahanan dari tempat penahanan di atas air ke daratan dan membawa mereka ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai guna melindungi kesehatan mereka.
Tahanan Lain di Kuwait
Selain itu, Baqerzadeh merujuk pada kesepakatan awal pemerintah Kuwait untuk mengizinkan duta besar Iran bertemu dengan para tahanan yang ditahan di negara tersebut. “Tindakan ini telah menciptakan secercah harapan untuk pembebasan segera para warga negara yang terkasih ini,” katanya. Ia menyerukan kepada Kuwait untuk menghormati hak-hak keempat tahanan Iran tersebut sesuai dengan empat Konvensi Jenewa dan memfasilitasi kontak awal antara mereka dan keluarga.
Komandan militer Iran itu juga mendesak ICRC untuk memfasilitasi panggilan video antara para tahanan Iran dan keluarga mereka. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menjaga hak-hak dasar para tahanan dan memastikan mereka tetap terhubung dengan orang-orang terdekat.
Operasi 2 Maret dan Kematian Pilot
Sebelumnya, Iran mengumumkan bahwa tiga pilot yang hilang setelah operasi 2 Maret terhadap Pangkalan Udara Al Udeid yang dioperasikan AS di Qatar telah ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar. Baqerzadeh mengangkat isu tersebut dalam surat kepada Presiden ICRC Mirjana Spoljaric Egger pada 15 Agustus. Dalam surat itu, ia menyatakan keprihatinan mendalam atas nasib para pilot dan mendesak organisasi tersebut untuk menyelidiki kondisi mereka serta memfasilitasi pembebasan mereka.
Menurut Baqerzadeh, dua pesawat tempur Su-24 Angkatan Udara Iran menjalankan misi tersebut, tetapi dihantam pertahanan udara musuh saat dalam perjalanan kembali, sehingga memaksa awaknya melontarkan diri. Salah satu dari empat pilot, Brigadir Jenderal Majid Kazemi, meninggal dunia. Pengujian DNA kemudian mengonfirmasi kematiannya dan jenazahnya dikembalikan ke Iran.
Baqerzadeh mengidentifikasi tiga pilot lainnya sebagai Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Behraveshian. Ia mengatakan ketiganya telah ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar. Pejabat militer Iran mengatakan pihaknya belum mampu bertemu atau mewawancarai ketiga pilot tersebut maupun menjalin kontak antara mereka dan keluarga.
Penyangkalan dari Qatar
Sementara itu, otoritas Qatar mengatakan mereka tidak memiliki informasi mengenai para penerbang yang hilang tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Mohammed Al-Ansari, mengatakan pihaknya secara tegas membantah laporan bahwa ketiga pilot Iran tersebut ditahan. Menurut keterangan Qatar, pasukannya berupaya berkomunikasi dengan para pilot setelah mereka memasuki wilayah udara Qatar, tetapi tidak mendapat respons.
Ansari mengatakan, pasukannya kemudian bertindak sesuai aturan keterlibatan yang telah ditetapkan untuk mempertahankan wilayah Qatar. Qatar juga membantah keterangan Iran mengenai apa yang terjadi setelah pesawat-pesawat tersebut jatuh. Qatar mengatakan, tim pencarian dan penyelamatannya mencari para pilot dan kemudian berkoordinasi dengan Iran terkait pemulihan serta pemindahan jenazah salah satu pilot. Doha mengatakan, pihaknya mengundang tim Iran pada April untuk memeriksa detail operasi pencarian tersebut, tetapi mengklaim bahwa Iran tidak menanggapi undangan itu.
Analisis dari Pakar
Menurut dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno, tudingan penangkapan pilot Iran terhadap Qatar merupakan bagian dari strategi Iran untuk meningkatkan leverage atau posisi tawar dalam perundingan dengan Amerika Serikat. Iran juga disebut memandang Qatar tidak sepenuhnya netral dalam menjalankan perannya sebagai mediator.
Dalam wawancara KompasTV, Minggu (16/8/2026), Efatha melihat Iran justru memilih jalur diplomasi ketimbang melakukan tindakan militer untuk mencari para pilotnya yang hilang. Iran disebut meminta Komite Internasional Palang Merah atau ICRC untuk melakukan pencarian. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan keuntungan diplomatik bagi Iran apabila nantinya muncul bukti bahwa Qatar memang mengetahui keberadaan para pilot tersebut.
“Mereka malah mengirimkan palang merahnya yang meminta kepada palang merah internasional untuk melakukan pencarian,” kata Efatha. Menurutnya, strategi tersebut memungkinkan Iran membangun persepsi bahwa mereka sedang menempuh jalur kemanusiaan dan hukum internasional. “Kalaupun nanti ke depannya ditemukan bahwa Qatar menyembunyikan, maka nanti akan ada sanksi internasional,” ujarnya.
Efatha menilai pendekatan tersebut juga membuat Iran memperoleh simpati publik internasional. Terlebih, perang yang berlangsung dinilai telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas. Dalam kondisi tersebut, Iran berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang mendorong penghentian perang.


